August 20, 2024 — in Filsafat

Friedrich Nietzsche nyerang Stoicism karena dia ngelihat aliran filsafat ini sebagai bentuk penyangkalan diri dan pengekangan emosi. Nietzsche percaya bahwa manusia harusnya hidup dengan penuh semangat dan gairah, dan bahwa Stoicism menghambat potensi manusia.
Dalam bukunya The Birth of Tragedy, Nietzsche ngekritik Stoicism sebagai bentuk “nihilisme pasif”. Dia berpendapat bahwa Stoicism ngajarin orang untuk nerima dunia apa adanya, bahkan jika dunia itu buruk. Nietzsche percaya bahwa ini adalah bentuk penyangkalan diri dan pengurangan nilai kehidupan.
Dalam bukunya Beyond Good and Evil, Nietzsche ngekritik Stoicism sebagai bentuk “moralitas budak”. Dia berpendapat bahwa Stoicism ngajarin orang untuk nerima nasib mereka, bahkan jika nasib itu tidak adil. Nietzsche percaya bahwa ini adalah bentuk pengekangan emosi dan penolakan untuk melawan ketidakadilan.
Adakah Pembelaan dari Tokoh Penganut Stoicism atas Serangan Nietzsche?
Ya, ada beberapa tokoh penganut Stoicism yang membela aliran filsafat ini dari serangan Nietzsche. Salah satunya adalah Epictetus, seorang filsuf Stoa yang hidup pada abad ke-1 M. Epictetus berpendapat bahwa Stoicism tidak ngajarin orang untuk nerima dunia apa adanya, tetapi untuk nerimanya apa adanya bagi kita. Dia juga berpendapat bahwa Stoicism tidak ngajarin orang untuk nyerah pada nasib mereka, tetapi untuk nerimanya sebagai tantangan yang harus dihadapi.
Tokoh penganut Stoicism lainnya yang membela aliran filsafat ini dari serangan Nietzsche adalah Marcus Aurelius, seorang kaisar Romawi yang hidup pada abad ke-2 M. Marcus Aurelius berpendapat bahwa Stoicism tidak ngajarin orang untuk hidup dengan penuh semangat dan gairah, tetapi untuk hidup dengan penuh kebajikan. Dia juga berpendapat bahwa Stoicism tidak menghambat potensi manusia, tetapi justru membantu manusia untuk mencapai potensi tertinggi mereka.
Berikut adalah beberapa pernyataan Nietzsche, Marcus Aurelius, dan Epictetus yang berkaitan dengan Stoicism:
Nietzsche
“Stoicism adalah moralitas budak.” - Beyond Good and Evil “Para Stoa itu seperti seorang pria yang berdiri di depan petinju dan telah menutup matanya agar tidak melihat pukulan lawannya.” - The Birth of Tragedy
Marcus Aurelius
“Kebahagiaan hidupmu tergantung pada kualitas pikiranmu.” - Meditations “Alam semesta berubah; hidup kita adalah apa yang pikiran kita buat.” - Meditations
Epictetus
“Yang mengganggu pikiran manusia bukanlah peristiwa itu sendiri, tetapi penilaian kita tentang peristiwa itu.” - Discourses “Bukan apa yang terjadi padamu, tetapi bagaimana kamu bereaksi yang penting.” - Discourses

Kesimpulan
Serangan Nietzsche terhadap Stoicism didasarkan pada pandangannya bahwa aliran filsafat ini adalah bentuk penyangkalan diri dan pengekangan emosi. Nietzsche percaya bahwa manusia seharusnya hidup dengan penuh semangat dan gairah, dan bahwa Stoicism menghambat potensi manusia.
Tokoh penganut Stoicism membela aliran filsafat ini dari serangan Nietzsche dengan berpendapat bahwa Stoicism tidak ngajarin orang untuk nerima dunia apa adanya, tetapi untuk nerimanya apa adanya bagi kita. Mereka juga berpendapat bahwa Stoicism tidak ngajarin orang untuk nyerah pada nasib mereka, tetapi untuk nerimanya sebagai tantangan yang harus dihadapi.